Menginap di Hotel Kapsul Syariah Medan

Di masa pandemi ada untungnya kalau kita cari tempat penginapan untuk
transit (beristirahat semalam, 2 malam) yaitu penginapan jadi sepi.

Kasihan juga sama pemilik penginapan, omset mereka menurun drastis karena adanya pandemi.

Tapi yang punya penginapan di dekat bandara, terbantu saat penumpang yang transit, karena mereka cari penginapan terdekat, dan bisa istirahat (tidur) di penginapan dengan nyenyak, daripada tidur di bandara (kalau nunggunya seharian ya mending di hotel/penginapan).


Saya yang dari kampung ke Medan (memakan waktu cukup lama di perjalanan, sekitar 7 jam) saya memilih untuk beristirahat 2 malam agar badan fit, karena perjalanan cukup jauh mau ke Manado, transit di Jakarta semalam.

Googling lah saya, dan saya pilih hotel terdekat dengan bandara Kualanamu, supaya ngga terburu-buru ajah nanti.

Berhubung saya dapat diare tapi ngga sampai parah ya diare nya, saya putuskan untuk menginap 2 malam di hotel Aviano Backpacker Syariah di Medan, sekitar 15 menit ke Bandara Kualanamu.

Dan enaknya saya bisa bayar pakai Go-Pay, jadi saya sudah booking, saya bayar untuk 1 malam dulu via Go-Pay.

Ini memang pertama kalinya saya menginap di hotel kapsul, kenapa saya sebut hotel kapsul, karena tampilannya, ya sebagai tamu hanya dapat ukuran kamar 2 x 1,5 meter. Masih ada space di pinggir kasur, untuk menaruh 2 tas ransel saya.

Harganya murmer Rp 75.000 per malam dibanding hotel lain, lokasinya jauh dari Kualanamu Airport. 

Biaya trasnport ke bandara juga saya perhitungkan.


Pssst, saat itu hanya saya tamunya, serasa ini hotel punya saya dong! :D

Dan sesampainya di hotel, saya diajak cucu tangan sama penerima tamunya.

Baru deh kemudian saya diajak masuk ke kontainer khusus perempuan. 

Kontainer lak-laki dibedakan yaa, terpisah dengan kontainer wanita. Lokasi kontainer laki-laki sesudah ruangan penerima tamu.

Hotel Aviano Syariaj Backpacker di Medan ini memang terbuat dari kontainer berwarna kunind dengan sedikit ada nuansa cokelat. Ada spanduk di depan yang menempel pada bangunan ya.

Ngga pake lama setelah menaruh 2 ransel, saya langsung mandi, keramas, khawatir saya membawa virus.

Kamar mandinya ada di dalam kontainer. 1 kontainer itu sekitar 6 kamar.

1 kamar hanya bisa untuk 1 orang. 

1 kontainer ada 2 kamar mandi. Kebetukan pas saya nginap, 1 kamar mandi tidak bisa digunakan.

Kamar mandinya disekat, pada bagian atas terbuka, jadi dinginnya AC central di kontainer bisa saya rasakan juga di dalam kamar mandi. 

Mau ngga mau saya pun harus melawan rasa dingin saat mandi dan keramas demi bisa tidur nyenyak dan bebas virus. Air panas tidak tersedia ya.7

Habis mandi, saya keluar ruangan (kontainer), biar rambut saya cepat kering tertiup angin, dan sekalian menghangatkan diri karena tadi kedinginan, mandi pakai AC :D

Setelah menikmati makan malam nasi goreng yang saya pesan di hotel, harganya murah Rp 15000, rasanya buat yang lapar yaa kenyang lah. Rasanya hotel banget. Jadi kalau ngarepin rasanya senikmat nasi goreng abang-abang, ya ga sama.

Dan yang menegangkan adalah saat perut saya mules, ingin buang gas. Maklum, pagi saya hanya sarapan roti. Saya tiba di hotel sudah sore, jadi telat makan ceritanya, makanya mulas.

Kamar saya di bawah, jadi di atasnya ada kamar lagi, saya sudah disediakan yang di bawah.

Bagian atas pada kamar (kamar atas ya) ngga ada sekat yang memisahkan dengan kamar lain, hanya gorden pembatasnya.

Depan kamar saya juga hanya berjarak kurang lebih 50 cm dan kamar saya ditutup atau dibatasi dengan kain gorden.

Jadi kebayang kan, kalau saya buang gas, seuruh ruangan bisa menghirup aroma therapy dari saya. 

Saya pun berusaha, untuk mengeluarkan dengan sangat hati-hati, sedikit demi sedikit, sambil saya mengoleskan minyak kayu putih ke perut saya dengan harapan saat gas yang saya keluarkan bisa tertutup baunya dengan bau dari minyak kayu putih.

Dan yang saya khawatirkan pun terjadi teman-teman!

Saya harus segera ke kamar mandi.

Untung lah ada pengharum ruangan milik penginapan, jadi setiap saya siram saya semprotkan pengharum ruangan itu tepat di lubang toilet. Asli boros banget saya makenya, karena saya mulas banget.

Lagi-lagi ada positifnya dengan keadaan saya sebagai satu-satunya tamu saat itu, saya bisa leluasa ke kamar mandi untuk melampiaskan efek perut saya yang mulas.

Ya gitu deh, resikonya kalau di hotel kapsul seruangan beberapa kamar, bau apapu  dinikmati bersama.

Aturan dari hotel, kalau makan wajib di luar kontainer. Bau makanan kan bisa ambyaaar di ruangan ber-AC.

Oh ya, dari Aviano Hotel ada fasilitas antar jemput ke bandara dengan biaya hanya Rp 50.000.

Hari ke-2 saya menginap, saya minta diantarkan ke bandara, untuk test swab antigen, dan dijemput lagi sama petugas hotel.

Hari ke-3 saya check out, jadi pas 2 malam aja saya nginapnya. Saya bayar lagi Rp 50.000 cuma untuk nganterin saya ke bandara. 

"Rugi dong, kan antar jemput 50ribu Mom Eliza?"

Setelah saya cek di aplikasi ojol, biaya transport dari Aviano Hotel ke bandara Kualanamu lebih mahal pakai ojol, dan agak susah dapatkan ojol motor ke bandara. 

Ngga apa-apa lah pakai jasa antar jemput Aviano Hotel walau hanya diantar ajah. Tetap lebih murah dari aplikasi ojol kok.

Selain itu keramahan pemilik Aviano Hotel, dan petugas hotel, buat saya betah di sana.

Kalau saya balik Medan, saya usahakan menginap sebentar di sana ah.

Suasana di sekitar hotel, cukup tenang, tidak terlalu padat penduduk, kita masih bisa menikmati sawah, ya harus jalan kaki sedikit ya.

Bingung soal makanan?

Ada juga yang jual makanan dekat hotel. Tapi pas saya menginap sedang tutup.

Saya pesan via Go-Food, jadi gampang lah kalau soal makanan ya.

So... buat yang mau transit saat di Bandara Kualanamu, bisa menginap di Hotel Aviano Syariah Backpacker, kalau cuma buat tidur semalam, 2 malam, rekomen banget! Murah, aman dan pelayanannya ramah.

Hotel Aviano Syariah Backpacker juga sudah ada di aplikasi Tiket.com dan Traveloka.com ya.

Atau bisa juga Googling dengan kata kunci: hotel kapsul murah dekat Kualanamu.

Previous
Next Post »
0 Komentar