Pengalaman Divaksin Covid 19 Pertama

Saya termasuk yang ngga takut sama jarum suntik, cuma ya saya kena 'ke-bete-an' karena kelamaan menunggu. 

Totalnya 8 jam baru bisa pulang. Wow!

Jadi ingat masa-masa kerja di kantor yaa, tapi bedanya ini kita ngga ada kesibukan yang berarti, menunggu antrian.

Saya dari jam 7 pagi sudah ada di kantor pemkot dan saya dapat nomor antrian 106. 

Dan petugas kesehatan dari puskesmas datangnya jam 9.30.

Sekitar jam 10 pagi baru dipanggil lagi untuk dikasih kertas berbentuk persegi dengan angka sesuai nomor antrian yang tertulis dengan nama saya jam 7 tadi.

Saya mikirnya bakal seperti di bandara, tinggal isi data di aplikasi dan nanti discann, lalu dipanggil berdasarkan antrian.


Yang memprihatinkan itu ngeliat para lansia yang sudah menunggu sejak pagi, berhubung hanya sedikit kursi yang tersedia untuk yang menunggu sampai dipanggil oleh petugas, saya dan sebagian besar yang antri, terpaksa duduk di tangga depan (samping kanan kiri bagian depan bangunan kantor pemkot), ada juga yang duduk di lantai atau tangga pintu masuk, dan sebagian di pinggiran taman yang bersemen.

Karena setelah petugas datang, kursi yang ada digunakan untuk sebagian para petugas dan sebagian untuk penerima vaksin yang akan disuntik.

Nah, singkat cerita..., 

Saya selesai dan bisa pulang sekitar jam 3 siang.

Sempat saya tidur di dalam mobil yang diparkir di area perkantoran pemkot Manado. Dan makan dari jajan ke penjual makanan yang berkeliling menjajakan dagangannya. 

Positifnya dari pengalaman divaksin di Manado, adalah saya yang bukan KTP Manado, bisa menerima vaksin. 

"Apakah ada gejala atau keluhan setelah divaksin?"

Ngga ada.

Ngga ada bedanya sebelum dan sesudah divaksin.

Sampai saya menuliskan artikel pengalaman saya ini, tidak ada keluhan sama sekali.

Mmmmm... saya teringat ada pemandangan lucu, ada seorang oma yang setelah disuntik, memetik tanaman hias di kantor, tanamannya bagus warnanya kuning cerah, dan Si Oma metiknya sekitar segenggam tangannya :D Banyak juga! Dan Oma memegangnya tanpa dikemas dalam plastik, itu pun dia masih asyik ngobrol sama yang lain.

Andaikan saya punya nyali sebesar Oma, ngambil tanaman yang ternyata setelah saya googling, namanya adalah tanaman brokoli kuning, atau Califa.

Kayanya Si Oma ngga mau kehilangan kesempatan untuk menambah koleksi tanaman kekinian Oma di rumah ya, apalagi Oma sudah lama menunggu , lumayan lah ya terobati dengan pulang bawa bunga :D

 
Positif lainnya, saya bisa berhenti menggunakan HP saya selama menunggu, karena pas banget saya ngga isi paket data internet.

Di sela-sela waktu menunggu itu saya gunakan untuk bercerita dengan sesama penerima vaksin, berinteraksi dengan masker tetap menutupi area wajah dan mulut kami, dan sesekali saya mencuci tangan dengan alkohol yang saya bawa, begitu juga dengan orang yang saya ajak bicara.

Berasa banget ya kita sebagai makhluk sosial di moment seperti ini bisa menggunakan waktu untuk mengamati banyak orang, berinteraksi dengan mereka, mengingatkan untuk bersabar menunggu, dan itu sebenarnya mengingatkan kita juga hahaha.

Lumayan lah dari jam 7 pagi sampai jam 3 siang ngga sibuk cek HP ;) 
Previous
Next Post »
0 Komentar